Australia, Asia or Europe?

    Abstract

            Australia is the unic  country. From position, Australia is in Asia Region, but from history aspect, Australia is commonwealth country of England. Australia as independent country step by step looking for their national identity. Between Europe and Asia both of them are important for Australia because Australia has a potential in trade side, so Asia and Europe as a place of Australian product and to create their Foreign Policy. Australian who consist of many cultur made the leader of Australia country gave the general policy as a Australia is the Multicultural country.

Keyword : Unic, Independent, Multicultural country, Foreign Policy 

Australia adalah negara yang kaya akan sumber alam, terisolasi, berpenduduk dengan tingkat yang masih minim, dan sangat tergantung pada perdagangan dan akses di pasar-pasar internasional. Sejak masa koloni, Australia telah menjadi pemasok bahan-bahan pertambangan, produk-produk pertanian, serta barang-barang industri bagi pasar Inggris. Sebaliknya, Australia juga menerima aliran modal dari negara-negara Eropa barat , terutama Inggris. Sesudah berkurangnya ekspor Australia ke Inggris, karena masuknya Inggris ke dalam Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), Australia tetap menggantungkan perekonomiannya pada perdagangan luar negeri. Pasar-pasar tujuan ekspornya yang bervariasi diantaranya Eropa Barat, Amerika utara, dan Asia, terutama Jepang.  Perdagangan luar negeri ini dapat dipertimbangkan sebagai kepentingan nasional Australia yang utama.

Australia merupakan negara yang berdaulat dan tentunya memiliki kewenangan atas arah mana yang ingin dituju negerinya melalui politik luar negerinya. Sebagai negara yang unik dan penuh dengan tanda tanya sebenarnya Australia yang memiliki posisi negara di Asia akan tetapi memiliki perbedaan kultur masyarakatnya sehingga menjadi menarik apakah Australia memiliki identitas tersendiri. Sehingga dalam tulisan ini dianggap perlu untuk menganalisis prilaku dalam pembuatan keputusan politik luar negeri. Hal ini merupakan pendekatan yang tepat untuk dipakai terutama pendefinisian politik luar negeri yaitu sebagai

“suatu mekanisme begi suatu ssstem politik untuk beradaptasi dengan lingkungan geopolitiknya dan untuk mengendalikan lingkungan itu demi mencapai tujuannya/kepentingan nasionalnya”.

  • Perspektif Pembuatan-Keputusan (Policy making)

Politik luar negeri dari sudut pandang pembuatan keputusan berarti menmpatkan suatu keputusan politik luar negeri tertentu atau serangkaian keputusan politik luar negeri sebagai sasaran politik. Teoritisi yang memplopori penerapan pendekatan pembuatan keputusan dalam analisa politik luar negeri adalah Richard C. Snyder. Pendekatan ini berhasil memperluas cakupan analisis politik luar negeri. Seperti yang dikatakan James Robinson dan Richard C Snyder ” maksud utama penelaahan proses pembuatan keputusan adalah untuk mengetahui apakah dan bagaimana keputusan mempengaruhi isi keputusan yang dihasilkan

Melihat Australia dengan politik luar negerinya, maka dapat diketahui bagaimana strategi Australia, kepentingan nasionalnya, dan dan bagaimana pandangan Australia dalam memposisikan diri pada sistem internasional. Hal ini tidak hanya melibatkan sikapnya terhadap negara-negara lainnya, melainkan termasuk juga bagaimana pemerintah Australia menyikapi persoalan-persoalan Internasional yang berkembang. Karena ada pengaruh timbal-balik, maka dalam memutuskan kebijakan luar negeri, pemerintah Australia pula mempertimbangkan isu-isu seperti sistem perthanana nasionalnya, modifikasi ancaman terhadap keamana nasional, sistem perdagangan serta perekonomian, pertukaran kebudayaan, bantuan luar negeri , dan hak asasi manusia.

  • ASPEK GEOGRAFI, SEJARAH, DAN KEPENTINGAN NASIONAL

Kebijakan luar negeri Australia ditujukan untuk mengamankan dan menstabilkan jalur-jalur distribusi utama bagi perdagangan luar negerinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada dua faktor yang menentukan dalam menimbang kebijakan luar negeri Australia, yaitu faktor-faktor Geografis dan sejarah Australia. Pentingnya faktor geografis dalam kebijakan luar negeri Australia pertama kali diakui oleh luar negeri Percy Spender pada tahun 1950. Geografis Australia menempati lokasi yang strategis di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik Selatan, serta dikelilingi oleh dua samudera besar, yaitu Samudra hindia dan Pasifik. Samudra Hindia yangyang menggapit sisi baragt negeri Australia dan yang merupakan jalur transportasi yang mengaitkan Australia dengan Benua Afrika, anak benia Hindia dan kawasan Asia tenggara,. Sementara bagian timurnya yang dikelilingi oleh Samudra pasifik menghubungkan negeri kangguru ini dengan bagian utara dan selatan benua Amerika.

Selain melihat faktor geografis, yang menekankan pada arah politik luar negerinya, maka perlu pula dilihat faktor sejarah yang membentuk masyarakat Australia. Faktor sejarah ini melahirkan apa yang disebut sebagai ”tradisi ke-inggrisan”. Sejarah Australia tidak dapat dilepas dari negeri induknya yaitu Inggris. Sejak pembentukan koloni sampai pada perang dunia II, dengan penegcualian terdapatnya sejumlah kecil kaum Aborigin, populasi Australia boleh dikatakan homogen, baik secara rasial maupun kultural. Dominasi warga Inggris sangat mencolok di Australia, dan mereka tetap menganggap Inggris sebagai negeri leluhurnya.

Faktor kesejarahan yang mengidentikkan diri dengan Inggris ini cukup menguasai pemikiran yang berkembang di dalam masyarakat Australia. Fasilitas-fasilitas yang diberikan

Inggris pada Australia membentuk suatu identitas ke-Inggris-an yang tidak dapat dihilangkan. Identitas ini cukup kuat pad awarga Australia didukung oleh beberapa faktor :

–       Keamanan Australia yang dijamin Inggris

–       Perdagangan luar negerinya berlangsung dengan Inggris

–       Hubungan luar negeri Australia selama lebih dari dua puluh tahun sejak federasi ditangani Inggris

–       Sistem pendidikan Inggris diterima sebagai model dalam sistem pendidikan Australia,

–       Serta kebudayaan inggris yang sangat berpengaruh kuat di Australia.

Kedua faktor yang telah dijelaskan, geografis dan sejarah, selalu dipertimbangkan oleh pembuat keputusan  Australia ketika menjalankan politik luar negerinya. Keduanya boleh dikatakan sebagai faktor tetap yang dipertimbangkan ketika Australia harus mengambil sikap  tertentu kepada negara-negara lain atau ketika Australia menghadapi situasi internasional yang sedang berkembang. Australia dalam hal ini memposisikan diri sebagai negara yang berdaulat, yang berwenaan atas negara mereka sendiri. Akan tetapi posisi kecendrunagn Australia yang lebih Intensif melakukan kegiatan terkait perwujudan kepentingan nasionalnya yaitu cendrung mengarah ke Eropa. Hal ini juga terkait masalah sejarah dan tingkat kepercayaan kaum tua Australia yang lebih mengganggap keunggulan benua Eropa dari pada Asia. Hal ini dapat kita lihat salah satu contoh pernyataan menteri luar negeri Australia yang percaya diri dan optimis akan kerjasamanya dengan negara Eropa yaitu Prancis. Dibandingkan peran Australia di Asia yang tidak se-percaya dirinya ketika berhubungan dengan Eropa.

Sekilas maksud pernyatan Menteri Luar Negeri Australia yang oleh Hon Alexander Downer pada Australia dan ”pemerintah telah mengakui hubungan Australia dan Eropa sangat kompleks  dan lama dengan bentuk jaringan keluarga, perdagangan,investasi, budaya, politik dan strategis hubungan dengan eropa, Australia dan Eropa tidak bekerja terhadap satu sama lain tetapi saling melengkapi. Kami telah menyerap lebih dari dua abad pengalaman Eropa dan teknologi serta lembaga pendidikan. Ekonomi  kita telah lama untuk investasi eropa”. Hal ini dapat membuka suatu pemahanman bahwa betapa penting eropa bagi Australia dan bagaimana Eropa menjadi begitu mempesona dan kepercayaan Australia akan Eropa.

Categories: Uncategorized | Tags: , , , , , , , , | Leave a comment

Skripsi Menggugah Semangat Membaca

Kalian tau g?? sebenarnya skripsi itu memiliki efek yang positif selain semangat untuk lulus. disamping ambisi untuk cepat2 pake toga, ternyata deadline yang ditentukan pembimbing untuk mengumpulkan draft tulisan memacu kita untuk terus membaca dan mencari data. apalagi jika ditambah dosen pembimbing yang disiplin akan ketepatan, kecepatan mahasiswa dalam proses bimbingan.

Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

Blog at WordPress.com.